Monday, November 24, 2008
pindahan aja deh

aku mau pindahan nih... dah bikin tempat yang baru... alasan pindah blog, sederhana banget... aku gaptek.. tapi bosenan... blogdrive nyediain variasi template yang terbatas banget... dah gitu, pas mau copy punya orang lain, eh... blogdrive nggak kompatible... sebel.. ya udah.. aku pindah rumah aja deh. ke sini nih... angan lupa dateng ya ke rumah -baruku

http://adeanita-adi.blogspot.com  


Posted at 04:27 pm by ade-anita
ada komentar?  

Thursday, August 30, 2007
Hari ketika dia memanggil saya ibu

Masih ingat kata apa yang pertama kali diucapkan oleh anak anda ketika dia baru saja mulai belajar bicara? Biasanya, kata pertamanya adalah semua kata yang memiliki huruf vocal ‘A’. Ayah, Aba, Ama, Mama, Papa. Seorang teman saya bahkan bercerita bahwa kata pertama yang diucapkan oleh anaknya adalah ‘Gajah’. Lucu memang meski tidak habis piker, darimana si kecil memperoleh kata tersebut. Alhamdulillah anak bungsu saya, seperti lazimnya anak-anak yang lain, kata pertamanya bukan kata yang aneh-aneh. Kata pertama yang berhasil dia lafalkan adalah “ayah”.

Sejak awal kami membentuk sebuah keluarga, saya dan suami memang sepakat untuk mempergunakan panggilan Ayah dan Ibu pada anak-anak kami. Tentu saja, karena terdiri dari dua huruf vocal yang berbeda, saya harus lebih bersabar menunggu anak-anak saya bisa memanggil saya ibu. Biasanya, jika mereka sudah lewat satu tahun, barulah kata ini bisa terucap dengan sempurna dari mulut anak-anak saya. Tapi, entah mengapa rasanya kesabaran ini tampaknya berkurang porsinya ketika saya berhadapan dengan anak bungsu saya. Setiap hari, setiap kali dia bertemu dengan apa saja, maka kata “Ayah” spontan keluar dari mulutnya. Minta dibukakan pintu, dia bilang “Ayah”. Minta minuman, “Ayah”. Minta diambilkan sesuatu, kembali “Ayah”. Pendek kata, hanya inilah satu-satunya kata yang keluar dari bibir mungilnya tersebut. Terkadang membuat saya tersenyum, tapi belakangan membuat saya sedikit cemburu. ‘Nak, ayo belajar memanggil saya Ibu.” Diam-diam, saya pun semakin rajin mengajari dia agar dapat pandai memanggil saya dengan seruan: ibu. Suami saya hanya tersenyum melihat kecemburuan saya tersebut. Hingga suatu hari, suami saya berkesempatan pergi ke luar kota selama beberapa hari.

Waktu-waktu dimana suami saya pergi ke luar kota tersebut benar-benar saya manfaatkan untuk mengintensifkan anak bungsu saya untuk berlatih memanggil saya ibu. Setiap saat jika ada kesempatan, saya selalu lafalkan panggilan “Ibu” di dekatnya. Ketika berjalan, bercanda, menyuapi. Awalnya, memang dia sedikit bengong dan senyum-senyum lucul. Tapi lama kelamaan akhirnya lancar juga. Alhamdulillah. Tidak terbayangkan betapa bahagianya hati ini ketika dia ingin tidur, wajah mungilnya memandang saya dengan mata penuh kepolosan dan memanggil saya “Bu” sebagai tanda bahwa dia ingin dihantar tidur. Suka cita diri ini menina-bobokan dia dengan doa penghantar tidur dan senandung penuh kasih. Hari-haripun terasa lebih ceria dan membahagiakan. Hingga tiba hari suami saya kembali dari luar kota.

“Sayang, ayah pulang nih.” Seperti biasa, bungsu saya ini dengan langkah lari terhuyung-huyung segera menyambut kedatangan ayahnya dengan wajah ceria dan menggemaskan. Kedua tangannya terulur ke atas minta digendong dan suami saya langsung menyambutnya dengan penuh kerinduan. Setelah senyum cerianya tertebar, dari mulut bungsu saya itu keluarlah panggilan sapaan untuk suami saya, “Bu…. Bu.” Saya tersenyum bangga dan langsung menyambung panggilannya, “Lihat mas, sekarang dia sudah bisa memanggilku juga.” Suami saya ikut tertawa bahagia.

Setelah lepas dari gendongan, kami sekeluarga lalu berbincang tentang berbagai macam hal dan dari sinilah terungkap satu kenyataan yang mengherankan. Ternyata, anak saya lupa dengan kata “Ayah”. Betul dia sekarang begitu lancar mengucapkan kata “Bu”, tapi, kata “Ayah” seperti terhapus dengan begitu saja dari kepalanya. Sekarang, jika ingin makan, dia mengucapkan kata “Bu”. Ingin mengambil sesuatu dia mengucapkan kata “Bu”. Termasuk jika bertemu dengan ayahnya, maka sapaan yang dia gunakan untuk memanggil ayahnya adalah “Bu.”

“De. Kok, jadi begini?” Suami saya bertanya dengan heran dan raut wajah sedih. Saya hanya bisa menggeleng. Sama sekali tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi.

“Iya mas. Kenapa ya? Awalnya aku hanya ingin merasakan nikmatnya dipanggil ibu olehnya. Tapi, kenapa jadi begini ya?” Lalu kami memandang si kecil dengan pandangan tidak mengerti. Ketika itu, dia ribut memanggil ayahnya dengan panggilan Bu sambil menunjukkan kue di tangannya yang masih terbungkus. Anak bungsu saya ini minta tolong pada ayahnya untuk dibukakan plastik pembungkus makanan tersebut.

Saya tahu, suami saya sedih mendapatkan kenyataan yang amat di luar dugaan tersebut. Saya bisa merasakan kesedihan hatinya. Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Jika ada yang bertanya menyesalkah saya dengan perkembangan situasi yang terjadi saat ini? Tentu saja saya akan menjawabnya tidak.

Sungguh sebuah kebahagiaan yang tidak dapat terungkap dengan kata-kata ketika mendengar anak saya tersebut memanggil saya ibu. Suara imut-imut tersebut memang sudah lama saya rindukan dan terus berusaha mendombrak batas-batas kesabaran yang saya bangun dalam penantian. Hari ketika dia menyebut saya ibu, adalah hari-hari yang bertabur dengan pelangi yang kemilau. Kebahagiaan saya adalah musim semi dari pohon-pohon rindu yang tumbuh subur di dalam diri ini. Tapi…. Bagaimana mungkin kebahagiaan tersebut bisa bersemayam dengan indahnya jika ternyata harus ada yang bersedih karenanya? Apatah arti kesenangan itu jika ternyata harus membuat luka pihak lain?

Anak adalah cobaan. Dia betul membawa kesenangan, mengantarkan kegembiraan, membasuh kelelahan dan menghalau kesedihan. Tapi, jika keberadaannya membuat kita lalai akan hak-hak lain yang juga harus kita pelihara, tentu lain lagi ceritanya. Dalam hal ini, apakah kesenangan yang ingin saya peroleh tersebut telah membuat sedih suami yang saya cintai? Entahlah. Tapi raut wajah yang terpatri itu telah mengatakannya tanpa sepotongpun kalimat.

“Mas, maaf ya. Aku terlalu pingin cepat-cepat dengar dia manggil aku ibu.” Suami saya hanya tersenyum penuh keikhlasan.

“Nggak papa.” Meski kalimat itu terucap, saya tetap merasa malu. Duhai. Jika perkara sepele ini saja saya tidak bisa mengendalikan nafsu, bagaimana pula dengan masalah lain? Hari ini, sudah berapa kali saya melalaikan hak orang lain demi meraih kesenangan sendiri? Astaghfirullah al aziim.

 


Posted at 03:30 pm by ade-anita
ada komentar?  

Friday, June 29, 2007
kaku-kaku

assalamu'alaikum semua... nggak terasa... sudah satu dua bulan ini tanganku mencoba untuk aktif lagi di depan komputer....

uh.. rasanya masih kaku-kaku deh... bayangkan, hampir dua tahun lebih nggak pernah nulis... paling banter juga.. kalau duduk di depan notebook main game... hehehe... memalukan memang... tapi memang demikian adanya... karena kurang dilatih akhirnya jadi rada kaku buat nulis...

Hawna, sekarang sudah 17 bulan... sudah bisa macam-macam tapi giginya masih 6 butir...

Arna baru saja naik ke kelas 3 SD... Ibam... nggak tahu deh, penentuannya besok. katanya sih insya Allah naik kelas ke kelas 3 SMP....

Nggak terasa juga waktu yang menggelinding terus... dan... dua tiga pekan ini akhirnya aku sadar... ternyata pengetahuanku sudah berhenti bertambah sejak memutuskan untuk cuti dari dunia tulis menulis.... hehehe... absurb emang... tapi bener... karena, sudah kebiasaan, kalau mau nulis aku mewajibkan diriku untuk membaca dan mengamati sekitar.... nah... dengan berhenti menulis, aku berhenti juga rajin membaca dan mengamati sekitar...akhirnya... berhentilah pertambahan pengetahuan dalam diri ini...akhirnya.... aku nulis tulisan seperti sekarang ini... tulisan yang sama sekali nggak penting....

Oke... ini waktunya untuk membenahi diri lagi...

 


Posted at 09:08 pm by ade-anita
Comments (2)  

Friday, December 29, 2006
and....growing up

mulai segini

lalu segini  lalu .... tanpa terasa sekarang Hawna sudah 11 bulan. Giginya belum tumbuh sih, tapi.... semua yang dia temukan pasti masuk mulut. baik itu benda yang organik maupun non-organik. hehehe.... rambutnya sudah tumbuh di bagian depan, tapi khusus di bagian belakang, karena sering tidur telentang kali yah, masih agak jarang tuh. Yah, nggak papah deh, nggak mamah juga.

oh ya, kalau lagi disuruh nunggu orang shalat, dia suka ngikutin bilang AllahuAkbar.... tentu saja dengan tipikal suara bayi yang belum tumbuh gigi.... hari ini dia lagi pilek...srup...doakan cepat sembuh yah.

btw, kakak-kakaknya juga makin sayang ke dia... dan tentunya mereka sendiri juga makin menyenangkan juga. Alhamdulillah pada mau bantu kerepotan orang tuanya.


Posted at 02:59 pm by ade-anita
ada komentar?  

Thursday, August 10, 2006
it's a girl

Wah!!!

sudah lama banget yah nggak pernah buka-buka ini. Aku punya berita baik. Aku sudah melahirkan dan anakku yang ketiga perempuan.

Cantik, lucu, ngegemesin...wah.. pokoknya berjuta pujian untuknya deh (hehehe, namanya juga anak sendiri, jadi yah suka rada-rada hiperbol gitu deh).

Nah, atas kelucuannya ini maka... tidak ada yang lebih penting daripada bersamanya. Jadi.... ditunda dulu deh kegiatan nulisnya... masa-masa perkembangan Hawna kan lagi pesat-pesatnya. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Menulis dan berkegiatan yang lain, bisa menyusul kemudian. Jadi, dipersory kalau blog ini lama banget nggak pernah diup date.

 


Posted at 02:18 pm by ade-anita
ada komentar?  

Next Page


ade-anita
September 26th
Female
jakarta
   



Assalamu'alaikum. Dahulu sekali aku punya diary. Sampai bertumpuk di lemari. Tapi sekarang, aku punya sahabat yang bersedia jadi diary kapan saja aku membutuhkannya. Jadi, diary tulisan tangan pun terlupakan. Tapi, karena aku senang nulis, pada akhirnya aku butuh tempat untuk menampung ide dan semua uneg-uneg... yang berguna untuk jadi bahan tulisan kelak. Sebagian besar tulisan di blog ini ada di Kafemuslimah.com...sebagian lagi sudah berubah jadi buku yang diterbitkan... tapi sebagian lagi cuma ada disini. Jadi.. Selamat membaca. Semoga bisa menularkan ide juga bagi orang lain.
Wassalamu'alaikum.


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed