Alhamdulillah… akhirnya, usia kandunganku memasuki usia 28 minggu. Masa mual, muntah, dan enek sudah bisa dikatakan berlalu… jika saja kemarin tidak kena diare. Hmm… karena kena diare selama dua hari, akhirnya maagku kambuh. Walhasil, perut rasanya terus menerus kembung dan mual serta muntah kembali datang menyapa. Seharusnya, hari selasa ke dokter buat periksa rutin. Tapi, akhirnya baru hari kamis bisa ke dokter. Tapi bukan ke dokter langganan, melainkan periksa ke PUSKESMAS…. Hehehe… pingin nyoba pake ASKES.
Arna pulang sekolah,langsung chao ke PUSKESMAS.
Yang namanya PUSKESMAS ini, harus dicapai dengan kendaraan umum dulu karena letaknya lumayan jauh dari rumah. Cuaca di luar rumah tuh cerah. Cerah banget malah. Matahari bersinar terik dan... mulailai babak berkeringat dimulai. Sampai di PUSKESMAS, Daftar, terus ngasi kartu ASKES… terus....eh… tiba-tiba, petugas pendaftarannya bilang gini,
“Bu… ini anak ke enam yah? Wah… ASKES-nya sudah nggak berlaku bu.” HAH? Aku bengong. Dia nggak lihat apa keringat yang masih mengalir di kening dan ujung hidungku? Setelah menelan air ludah untuk mengatasi rasa kaget, lemah aku bilang aja ke petugas.
“Iya sih, ini insya Allah jadi anak ke enam saya. Tapi kan, anak saya yang bisa lahir dengan selamat hingga bisa jadi besar itu cuma ada dua pak. Yang lain, maksud saya, yang tiga lainnya keguguran semua. Ini kehamilan ke enam, tapi insya Allah masih masuk hitungan anak ketiga.” Petugasnya bengong. Terus serius merhatiin lembar catatan medis, terus…mungkin dia bingung juga. Jumlah anak yang harus dihitung itu yang hidup saja apa yang sudah tiada juga?
“Hmm… kalau gitu, sebentar yah bu.” Mungkin dia ngasih kesempatan buatku untuk menghapus keringat yang masih deras mengalir. Sejak memasuki bulan ke lima kehamilan ini, bawaanku kegerahan melulu. Keringat tuh rasanya tidak berhenti mengalir. Baju cucian yang biasanya irit (bisa dipakai dua-tiga kali) sekarang habis dipakai harus langsung diturunin karena sudah pasti bau keringat. Kasihan juga yang nyuci (maafkan aku yah say…). Akhirnya, setelah diskusi dengan teman sejawatnya, petugas itu kembali datang.
“Bu… nanti tanya sama dokter saja deh, status ibu di ASKES jadinya gimana.” Terus dia ngasih nomor urut pasien. Dapat nomor 32. Aku tersenyum dan bertanya pada sesama pengunjung yang menunggu.
"Sudah nomor berapa mbak yang dipanggil?"
"Baru nomor 11." Senyumku langsung hilang. Hmm… begini ini kalau berobat kesiangan.
Iseng aku tengok kiri kanan. Mencoba mencari pemandangan yang bisa menghibur. Ada beberapa orang disana yang juga menunggu, perempuan semua dan hamil semua…. Hehehe… namanya juga emang ruang tunggu poli kandungan. Ada yang hamilnya sudah besar sekali, ada juga yang perutnya masih kempis tapi wajahnya pucat dan lesu (mungkin dia baru awal-awal dan mengalami mual muntah). Ada yang pakai rok, ada juga yang pakai celana panjang. Ada yang rambutnya digerai, ada juga yang berjilbab dan…. Subhanallah…. Ada…..
“Ade yah?” hah? Loh… itu kan…,
“Afiyah yah?” Subhanallah…. Di ruang tunggu ini tidak dinyana ketemu Afiyah. Dia teman SMA-ku dulu. Teman sebangku waktu di kelas satu SMA N 8 Jakarta. Afiyah langsung spontan pindah duduk di sebelahku. Aku Cuma cengar-cengir, surprise banget!!! Senengnya nggak terkata. IT’s been a long…long… lontong… eh.. time. Sudah lama banget nggak pernah dengar kabar tentang Afiyah. Sejak lulus SMA… Lah, anakku yang besar saja sekarang sudah kelas satu SMP!!!
“Subhanallah Afiyah, apa kabar? Ihh… nggak nyangka kita ketemu di sini.” Kami berdua cekikikan bak remaja. Lupa dengan perut yang sama-sama membuncit, apalagi usia yang sudah masuk usia kritis untuk hamil (35 lewat jeehhh!!!).
“Subhanallah, ade… akhirnya ente dapat hidayah juga.” Tertawaku kian tak tertahan melihat gaya Afiyah berkata seperti itu.
Duh… bukan rahasia lagi. Dulu, persahabatanku dengan Afiyah memang amat unik. Kami berdua memang berasal dari latar belakang yang amat berbeda. Seperti bumi dan langit. Afiyah anak ROHIS tulen. Kaus kakinya selalu panjang seperti pemain sepak bola yang bertanding di musim dingin (dulu, memang ada peraturan bahwa jilbab dan rok panjang tidak boleh dikenakan di sekolah). Sebelum dan setelah jam sekolah, jilbab lebar senantiasa menghiasi kepalanya. Dia juga aktif dengan kegiatan ROHIS. Tutur katanya lembut keibuan, senantiasa sabar dan rendah hati. Sementara aku… hmm…. Bisa dikatakan, aku selalu beredar di sekolah bersama teman-teman gank-ku yang tidak ada satupun berasal dari anak ROHIS. Yang ada dari sie keamanan, pecinta alam, basket, teater, paduan suara dan paskibra.
Jadi, kalau hari ahad (dimana kegiatan ekstra kurikuler emang selalu diadain di hari ahad), Afiyah bisa dicari di musholla, sedangkan kalau mau nyari aku… cari ajah di antara mereka yang nongkrong di kantin sekolah, atau di bawah pohon. Biasanya, aku lagi asyik bercanda sambil cekakakan bareng teman-teman gank-ku, sambil nyoba untuk tebar pesona.
Kalau pulang sekolah, Afiyah dengan sabar menunggu S-60 datang di bawah terik matahari dan di antara debu-debu yang beterbangan (Afiyah selalu pulang kalau sekolah sudah rada-rasa sepi karena dia senantiasa menyempatkan diri untuk beres-beres musholla dulu), aku di saat yang sama mungkin lagi dilanda perasaan tegang karena mobil sedan teman yang aku tumpangi, saat itu sedang adu kecepatan dengan mobil sedan lain di jalan raya. Kebut-kebutan (istilahnya, tarik-tarikan) memang jadi permainan yang biasa banget di antara teman-teman gank-ku.
Kalau sabtu malam Afiyah mungkin lagi ikut MABID buat memperoleh pencerahan iman, aku dan teman-teman gank-ku malah keluyuran nyari hantu di kuburan-kuburan (oh ya, teman-temanku memang pada penasaran semua pingin liat hantu tanpa kepala di kuburan jeruk purut. Mereka tuh niat banget, malam-malam ngajak jalan cuma buat melihat dengan mata kepala sendiri kayak apa sih yang namanya hantu tanpa kepala itu…. Uhhh, mereka memang gila-gila!!!).
Pendek kata, aku dan Afiyah tuh, meski duduk sebangku setiap harinya, tapi kami seperti bumi dan langit. BEDA banget! Dan, hubungan pertemanan kami berdua, sama-sama tidak direstui oleh teman-teman dari kedua belah pihak. Jadi, kami bersahabat secara back street (duh, istilahnya, apa coba?). Hehehhe….. teman-teman ROHIS Afiyah, kesal banget lihat aku sebangku dengan Afiyah, dan diam-diam selalu berusaha minta supaya Afiyah nyari teman sebangku yang lain. Mereka takut Afiyah terkontaminasi dengan kelakuanku yang serba minus. Sementara teman-teman gank-ku, berulang kali menyarankan agar aku pindah duduk dengan orang lain yang “nggak beda jauh dengan keseharianku”. Bukan apa-apa, kalau lagi kumat niat untuk mengemukakan ide untuk menjalankan kegilaan-kegilaan, entah mengapa, aku tuh suka nggak sadar malah ngasih saran untuk mengurungkan niat dan ide tersebut. Biasanya, tanpa sadar, aku tuh suka bilang, “Eh… kata Afiyah, sebenarnya yang kayak gini nggak baik loh.” . "Eh, kita pulang saja yuk, nanti kalau kelamaan takutnya jadi ngelakuin dosa loh, soalnya Afiyah bilang, bla..bla...bla." Hihihi… mungkin mereka gerah kali yah dengan nasehat yang sepintas aku kemukakan and they all come from Afiyah's mind.
Tapi, meski berbeda, persahabatan aku dan Afiyah yang unik tetap terjalin, hingga kami lulus SMA. Meski obrolannya kadang suka nggak nyambung. Aku hari senin selalu menggebu-gebu bercerita tentang pesta-pesta dan acara-acara “heboh” yang aku datangi di sabtu malam dan hari ahad, sementara dia selalu bercerita tentang tausiyah-tausiyah yang dia dapatkan di hari yang sama tersebut. Kadang aku yang bengong mendengar pelajaran dan hikmah yang terselip di tausiyah-tausiyah yang Afiyah ceritakan, tapi lebih banyak Afiyah yang bengong mendengar cerita-cerita seruku. tapi di ujungnya, aku juga sering merenungkan semua tausiyah dia. Hmm. Kalau dipikir-pikir, mungkin Afiyah tuh merasa bahwa menasehatiku adalah ladang amal terbesar buatnya. Sedangkan buatku pribadi, Afiyah adalah penyeimbang untuk semua ego-ego negatif yang sering muncul berhamburan dari dalam diri ini. Yah, pokoknya hubungan kami asli saling mengisi (meski yang satu ngisinya harus benar-benar dengan kesabaran dan kerja keras).
Nah… di ruang tunggu pasien itu, aku dan Afiyah seperti kembali memutar lembaran-lembaran itu. Lucuuuu banget. Ihhh… astaghfirullah… ternyata dulu aku gila banget yah. Syukurlah hidayah itu datang juga, entah apa jadinya diri ini jika Allah tidak membantu mengangkat diriku.
“De… selain jilbab, masih ada nggak yang nggak berubah dari diri ente?” Hah? Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Kenapa emangnya?”
“Habis, ente beda banget sama dulu. Benar-benar berubah. Lain banget.” Aku kembali tersenyum.
"Nah, senyumnya aja dah berubah. Dulu mana pernah senyum kalem kayak cewek gini." Aku langsung nyengir kuda.
“Tadi kesini… pakai mobil De? Dah bisa nyetir akhirnya?” Kembali aku tersenyum tapi kali ini dengan sebuah gelengan kepala yang kuat.
“Itu termasuk salah satu yang belum bisa diubah.” Dengan senyum keibuannya yang khas, Afiyah bingung.
“Kenapa? Ente masih tetap belum bisa bedain kiri kanan yah?” Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Afiyah tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Hehehe…. Aku memang punya banyak kekurangan. Salah satunya, orientasi kiri kananku yang kacau balau. Dari dulu, aku memang sulit untuk mengingat yang mana sebelah kiri dan mana yang sebelah kanan.
“Lah ini… jam tanganku masih tetap di tangan kanan.” Yah, jangan heran. Jam tangan yang kuletakkan di tangan kanan ini memang sebagai pengingat arah kanan.
“Ihh… ade… ade… ente tuh selalu bikin kangen…seneng banget deh ketemu ente lagi. Lebih senang lagi, karena ente sudah benar-benar jadi ade yang baru.” Afiyah dengan wajah sendu menatapku. Mungkin terharu, mungkin bahagia. Entahlah. Tapi yang pasti, aku juga merasakan kegembiraan yang sama atas pertemuan hari ini. Dan terharu mendengar pengakuan terakhirnya. Alhamdulillah wa Syukurillah. Indahnya persahabatan.