|
Masih ingat kata apa yang pertama kali diucapkan oleh anak anda ketika dia baru saja mulai belajar bicara? Biasanya, kata pertamanya adalah semua kata yang memiliki huruf vocal ‘A’. Ayah, Sejak awal kami membentuk sebuah keluarga, saya dan suami memang sepakat untuk mempergunakan panggilan Ayah dan Ibu pada anak-anak kami. Tentu saja, karena terdiri dari dua huruf vocal yang berbeda, saya harus lebih bersabar menunggu anak-anak saya bisa memanggil saya ibu. Biasanya, jika mereka sudah lewat satu tahun, barulah kata ini bisa terucap dengan sempurna dari mulut anak-anak saya. Tapi, entah mengapa rasanya kesabaran ini tampaknya berkurang porsinya ketika saya berhadapan dengan anak bungsu saya. Setiap hari, setiap kali dia bertemu dengan apa saja, maka kata “Ayah” spontan keluar dari mulutnya. Minta dibukakan pintu, dia bilang “Ayah”. Minta minuman, “Ayah”. Minta diambilkan sesuatu, kembali “Ayah”. Pendek kata, hanya inilah satu-satunya kata yang keluar dari bibir mungilnya tersebut. Terkadang membuat saya tersenyum, tapi belakangan membuat saya sedikit cemburu. ‘Nak, Waktu-waktu dimana suami saya pergi ke luar “Sayang, ayah pulang nih.” Seperti biasa, bungsu saya ini dengan langkah lari terhuyung-huyung segera menyambut kedatangan ayahnya dengan wajah ceria dan menggemaskan. Kedua tangannya terulur ke atas minta digendong dan suami saya langsung menyambutnya dengan penuh kerinduan. Setelah senyum cerianya tertebar, dari mulut bungsu saya itu keluarlah panggilan sapaan untuk suami saya, “Bu…. Bu.” Saya tersenyum bangga dan langsung menyambung panggilannya, “Lihat mas, sekarang dia sudah bisa memanggilku juga.” Suami saya ikut tertawa bahagia. Setelah lepas dari gendongan, kami sekeluarga lalu berbincang tentang berbagai macam hal dan dari sinilah terungkap satu kenyataan yang mengherankan. Ternyata, anak saya lupa dengan kata “Ayah”. Betul dia sekarang begitu lancar mengucapkan kata “Bu”, tapi, kata “Ayah” seperti terhapus dengan begitu saja dari kepalanya. Sekarang, jika ingin makan, dia mengucapkan kata “Bu”. Ingin mengambil sesuatu dia mengucapkan kata “Bu”. Termasuk jika bertemu dengan ayahnya, maka sapaan yang dia gunakan untuk memanggil ayahnya adalah “Bu.” “De. Kok, jadi begini?” Suami saya bertanya dengan heran dan raut wajah sedih. Saya hanya bisa menggeleng. Sama sekali tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. “Iya mas. Kenapa ya? Awalnya aku hanya ingin merasakan nikmatnya dipanggil ibu olehnya. Tapi, kenapa jadi begini ya?” Lalu kami memandang si kecil dengan pandangan tidak mengerti. Ketika itu, dia ribut memanggil ayahnya dengan panggilan Bu sambil menunjukkan kue di tangannya yang masih terbungkus. Anak bungsu saya ini minta tolong pada ayahnya untuk dibukakan plastik pembungkus makanan tersebut. Saya tahu, suami saya sedih mendapatkan kenyataan yang amat di luar dugaan tersebut. Saya bisa merasakan kesedihan hatinya. Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Jika ada yang bertanya menyesalkah saya dengan perkembangan situasi yang terjadi saat ini? Tentu saja saya akan menjawabnya tidak. Sungguh sebuah kebahagiaan yang tidak dapat terungkap dengan kata-kata ketika mendengar anak saya tersebut memanggil saya ibu. Suara imut-imut tersebut memang sudah lama saya rindukan dan terus berusaha mendombrak batas-batas kesabaran yang saya bangun dalam penantian. Hari ketika dia menyebut saya ibu, adalah hari-hari yang bertabur dengan pelangi yang kemilau. Kebahagiaan saya adalah musim semi dari pohon-pohon rindu yang tumbuh subur di dalam diri ini. Tapi…. Bagaimana mungkin kebahagiaan tersebut bisa bersemayam dengan indahnya jika ternyata harus ada yang bersedih karenanya? Apatah arti kesenangan itu jika ternyata harus membuat luka pihak lain? Anak adalah cobaan. Dia betul membawa kesenangan, mengantarkan kegembiraan, membasuh kelelahan dan menghalau kesedihan. Tapi, jika keberadaannya membuat kita lalai akan hak-hak lain yang juga harus kita pelihara, tentu lain lagi ceritanya. Dalam hal ini, apakah kesenangan yang ingin saya peroleh tersebut telah membuat sedih suami yang saya cintai? Entahlah. Tapi raut wajah yang terpatri itu telah mengatakannya tanpa sepotongpun kalimat. “Mas, maaf ya. Aku terlalu pingin cepat-cepat dengar dia manggil aku ibu.” Suami saya hanya tersenyum penuh keikhlasan. “Nggak papa.” Meski kalimat itu terucap, saya tetap merasa malu. Duhai. Jika perkara sepele ini saja saya tidak bisa mengendalikan nafsu, bagaimana pula dengan masalah lain? Hari ini, sudah berapa kali saya melalaikan hak orang lain demi meraih kesenangan sendiri? Astaghfirullah al aziim. |
| Leave a Comment: |